tugas bahasa indonesia kelas XII
1.pengertian kritik dan esai
Kritik adalah Suatu ungkapan atau tanggapan mengenai baik atau buruknya suatu tindakan yang akan atau sudah dibuat
Esai adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subjek tertentu yang coba dinilainya.Bentuk karangan esai dapat berupa formal atau informal. Esai sering juga disebut dengan artikel, tulisan atau komposisi
2.perbedaan kritik dan esai
Berikut ini adalah perbandingan kritik dan esai berdasarkan pengetahuan dan sudut pandang dari penulis serta dapat dilihat juga dari ciri dan jenis-jenisnya, seperti:
Jika berdasarkan isi pengetahuan kritik dapat dikenali dari objek kritikannya yang dapat berupa ilmiah dan non ilmiah seperti, skripsi, artikel, seni rupa, film, dan sebagainya. Sedangkan esai berupa fenomena atau bisa juga objek kajian yang membentuk suatu opini publik. Kritik ditampilkan dalam bentuk deskripsi singkat mengenai keseluruhan isi, lalu untuk esai biasanya tidak disertai ringkasan tersebut. Lalu untuk analisisnya keduanya bisa menggunakan data yang bersifat objektif, namun untuk esai data tersebut bisa tidak digunakan tergantung jenis esai yang sedang dibahas.
Selanjutnya dari segi sudut pandang penulis, kritik harus ditulis berdasarkan teori dan kajian data yang sudah ada. Beda halnya dengan esai yang penulisannya masih dipengaruhi oleh opini pribadi tanpa harus menggunakan kutipan atau teori tertentu.
3. contoh kritik dan esai
#Kritik dan Esai Novel Ayat-Ayat Cinta
Mengisahkan kehidupan Fahri, tokoh utama, yang diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dengan perempuan. Fahri adalah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Ia selalu berusaha meneladani Rasulullah Saw. Dalam segala tindak tanduknya. Hal itu tercermin dari perilakunya sehari-hari, baik di dalam bertetangga, berinteraksi dengan lawan jenis, maupun dengan sesama muslim dan nonmuslim. Dakwah adalah aktivitas kesehariannya. Bagi Fahri, dakwah bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Diceritakan bagaimana ia menjelaskan hukum interaksi laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram kepada tetangganya, Maria, yang merupakan pemeluk Kristen Koptik yang taat.
Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari satu novel asmara. Di sinilah terlihat kelebihan lain novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri, tetapi tidak terjatuh ke dalam kevulgaran. Inti plot adalah kisah cinta segi empat antara Fahri (“aku”) dengan Aisha, Maria, dan Noura. Dalam hubungan persahabatan yang diwarnai getar-getar isyarat cinta antara Fahri dengan ketiga gadis itulah plot novel ini berkembang. Pada akhir cerita Fahri menikahi Aisyah—sebagai akhir kendali alur cerita dan sumber-sumber ide pencerahan.
Kehidupan Fahri berubah 180 derajat ketika ia menikah dengan seorang muslimah Turki. Dari seorang mahasiswa miskin yang berangkat ke Mesir dengan menjual sawah warisan keluarga satu-satunya, ia menjadi suami pemilik perusahaan besar yang laba bulanannya berkisar milyaran rupiah. Hidupnya pun menjadi seperti mimpi: tinggal di apartemen yang berada di kawasan elit Kairo, yang juga merupakan tempat tinggal para selebriti kota Mesir, memiliki istri yang salehah, cantik, dan kaya-raya.
Keimanan dan keikhlasan Fahri diuji ketika ia harus masuk penjara karena difitnah sebagai pemerkosa. Di dalam penjara pun Fahri tetap menjalankan ibadah sunah, seperti salat tahajud. Tak hanya itu, sekalipun di penjara ia tetap menimba ilmu dari seorang Guru Besar Ekonomi yang dipenjara karena kritik-kritik pedasnya. Dari sini Fahri sudah bertindak sebagai santri salaf yang haus ilmu.
Selain cobaan di dalam penjara, Fahri juga menghadapi godaan berupa tawaran untuk menyuap agar ia bisa dibebaskan. Terbersit juga ide untuk memberikan kesaksian palsu untuk memberi kesan bahwa orang yang dipenjara tidak bersalah. Namun, ia tetap memegang teguh prinsip untuk tetap berjalan berdasarkan tuntunan Alquran. Dalam kasus Fahri, kebenaran tetap tak dapat disembunyikan. Akhirnya ia dapat bebas dari penjara sebelum masa hukuman berakhir, berkat kesaksian yang dibeberkan oleh orang-orang yang tadinya memberikan kesaksian palsu.
Novel Ayat-Ayat Cinta ini adalah karya sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta, dan latar belakang budaya Islam, dituturkan dengan memakai penceritaan orang pertama ‘aku’. Label novel pembangun jiwa pada jilidnya dan predikat sastra islami yang diberikan oleh para pembacanya, tidak membuat novel ini menjadi sebuah pemaksaan dogmatis yang kering. Amanat atau pesan yang disampaikan tidak terasa menggurui.
Suasana yang dibangun diperkuat dengan penggunaan bahasa Arab formal (fusha) dan informal (‘amiyah’) hampir dalam setiap paragrafnya. Catatan-catatan kaki yang sudah disediakan menjadi sangat berguna. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan di sana-sini berhasil membawa pembaca ke dalam latar novel yang bernuansa sosial-budaya Timur Tengah.
Gaya bahasa yang halus ketika melukiskan suasana alam Mesir di musim panas, sudah terasa sejak baris-baris pertama novel. Kota Mesir yang menjadi latar belakang cerita ini dibangun dengan begitu mengesankan karena pengarang mengalami sendiri hari-hari di kota Mesir. Gambaran kehidupan tokoh utama Fahri yang demikian mengesankan membuat kita berkesimpulan bahwa Fahri tidak lain adalah pengarang sendiri.
# Ciri-Ciri Kritik
1. Bersifat menanggapi atau mengomentari karya orang lain.
2. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan.
3. Memberi saran perbaikan.
4. Bertujuan menjembatani pemahaman pembaca.
Ciri-Ciri Esai
1. Berbentuk prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan penggunaan bahasa dan ungkapan figur.
2. Singkat, maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.
3. Memiliki gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.
4. Selalu tidak utuh, hal ini berarti penulis memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis,
5. Memenuhi keutuhan penulisan. Walau esai adalah tulisan yang tidak utuh, harus memiliki kesatuan dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran.
6. Mempunyai nada pribadi atau bersifat individu, yang membedakan esai dengan jenis karya sastra adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah pengungkapan penulis sendiri tentang pandangannya, sikapnya, pikirannya, dan kepada pembaca.
Komentar
Posting Komentar